Catatan Kecil Apoteker

Sebuah blog yang berisi tentang ilmu farmasi

Latest Posts


Kasus:
Tn. RM usia 39 tahun dengan BB 83 kg dan TB 165 cm datang ke dokter dengan keluhan dalam dua bulan terakhir badan sering merasa lemah, cepat lelah. Dalam satu bulan terakhir berat badan pasien turun 8 kg, padahal yang bersangkutan merasa aktivitas makan normal, bahkan meningkat. Pasien pekerja kantor dengan aktivitas yang menuntut banyak duduk dan jarang olahraga. Riwayat keluarga ibu DM.
Dari pemeriksaan gula darah diperoleh hasil GDA 280 mg/ dl. Diagnosa dokter menyatakan DM tipe 2. Kemudian pasien diberikan arahan menurunkan berat badan, diet asupan makanan, olahraga secara teratur. Terapi obat Metformin 2 x 500 mg. Pasien diminta kembali dua bulan kemudian untuk dilakukan evaluasi.
Pertanyaan:
1.      Jelaskan kriteria seorang pasien dinyatakan DM!
Jawab:
Kriteria seorang pasien yang dinyatakan DM:
a.       Mengalami gejala DM, seperti poliurea (sering kencing), polidipsi (sering haus), polifagia (sering lapar), dan berat badan turun tanpa sebab yang jelas.
b.      Memiliki GDA (Gula Darah Acak) ≥ 200 mg/dl (11,1 mmol/L).
c.       Memiliki GDP (Gula Darah Puasa) ≥ 126 mg/dl (7 mmol/L).
d.      Memiliki GD (Gula Darah) ≥ 200 mg/dl sesudah beban glukosa 75 g pada TTGO.
e.       Memiliki HbA1c > 6,5%.

2.      Jelaskan faktor resiko yang ada pada Tuan RM untuk mengalami DM!
Jawab:
a.       Riwayat keluarga. Pada kasus tersebut, ibu Tn RM mengalami DM sehingga Tn RM juga beresiko untuk menderita DM.
b.      Obesitas (> 20% lebih dari IBW atau BMI > 25). Obesitas abdominal menyebabkan resistensi insulin. Peningkatan resistensi insulin dengan penambahan berat badan akan mempengaruhi jumlah Visceral Adipose Tissue (VAT). VAT memproduksi sitokin yang menyebabkan resistensi insulin dengan cara mengurangi sensitivitas insulin di jaringan peripheral (Dipiro Pharmacotherapy 7th edition page 1212).
c.       Aktivitas dan olahraga yang kurang. Kurangnya aktivitas dan olahraga akan menyebabkan resistensi insulin meningkat dan menyebabkan glukosa lebih banyak masuk ke dalam darah.

3.      Jelaskan keterkaitan keluhan yang ada pada Tuan RM dengan DM dan gejala klinik DM yang lain!
Jawab:
Keterkaitan keluhan yang ada pada pasien dengan DM dan gejala klinik DM lain:
a.       Tubuh sering merasa lemah dan lelah.
Adanya resistensi insulin menyebabkan terjadi gangguan metabolisme karbohidrat sehingga proses glikolisis menurun. Pada proses glikosis, glukosa dipecah menjadi asam piruvat dan ATP yang berfungsi sebagai sumber energi. Menurunnya proses glikolisis menyebabkan sumber energi berkurang dan tubuh menjadi lemah dan lelah.
b.      Turunnya berat badan pasien.
Pada penderita DM, efek metabolik dari insulin akan terganggu. Sehingga insulin tidak bisa masuk ke dalam sel. Kemudian tubuh akan melakukan glukoneogenesis (sintesis glukosa dari protein dan lemak). Jika glukoneogenesis terjadi terus menerus maka akan terjadi lipolisis dan proteolisis sehingga menurunkan berat badan pasien.
c.       Sering kencing pada malam hari.
Gangguan metabolisme glukosa yang dialami pasien DM akan menyebabkan diuresis meningkat karena glukosa bersifat diuresis osmotik.

4.      Jelaskan klasifikasi DM! Tuan RM di atas mengalami tipe DM yang mana?
Jawab:
Klasifikasi DM:
a.       DM tipe 1
Adanya destruksi autoimun dari sel-sel beta kelenjar pankreas yang mengakibatkan defisiensi sekresi insulin absolut.
b.      DM tipe 2
Adanya kegagalan sel-sel sasaran insulin untuk merespon insulin secara normal, keadaan ini disebut resisten insulin. Selain itu dapat juga timbul gangguan sekresi insulin dan produksi glukosa hepatik yang berlebihan. Pada tipe ini, sel beta pankreas tidak mengalami kerusakan sehingga defisiensi fungsi insulin hanya bersifat relatif. Banyak faktor resiko yang terjadi pada DM tipe 2, yaitu obesitas, riwayat keluarga, dan sebagainya.
c.       DM tipe lain
Dapat disebabkan oleh efek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat/ zat kimia, infeksi, sebab imunologi, dan sindrom genetika lain yang berkaitan dengan DM.
d.      DM gestasional
Intoleransi glukosa yang didapati pada masa gestasional (kehamilan), biasanya pada trisemester kedua/ ketiga. DM gestasional berhubungan dengan meningkatnya komplikasi perinatal (di sekitar waktu melahirkan), dan ibu beresiko menderita DM dalam jangka waktu 5-10 tahun setelah melahirkan.

Tn RM mengalami DM tipe 2 berdasarkan faktor resiko yang sama.

5.      Jelaskan peran insulin dalam mengendalikan gula darah!
Jawab:
Peran insulin dalam mengendalikan glukosa darah:
·           Dalam hati
1.      Insulin meningkatkan penyimpanan energi melalui stimulasi sintesis glikogen dan penyimpanan. Selain itu, insulin menstimulasi lipogenesis dan meningkatkan sintesis protein.
2.      Insulin menghambat keluaran glukosa hepatik melalui penghambatan glukoneogenesis dan glikolisis. Insulin juga menghambat oksidasi asam lemak dan menurunkan produksi bahan keton (ketogenesis).
·           Dalam otot
Insulin menstimulasi ambilan glukosa dan meningkatkan penyimpanan glukosa dengan menstimulasi sintesis glikogen serta menghambat katabolisme.
·           Dalam lemak
Membantu penyimpanan lemak karena meningkatkan alfa-gliserofosfatase suatu perantara esterifikasi asam lemak bebas, yang kemudian disimpan sebagai trigliserida.

6.      Jelaskan alasan pilihan obat metformin untuk pasien di atas! Bagaimanakah cara kerja obat ini? Sebutkan efek samping yang potensial dan cara mengatasi ESO tersebut!
Jawab:
Untuk penderita DM dengan kriteria seperti Tn RM yang merupakan DM tipe 2, obat yang cocok adalah metformin. Karena pada DM tipe 2 sensitifitas insulin menurun dan metformin berfungsi untuk menurunkan glukosa darah pada tingkat seluler. Selain itu, metformin juga menurunkan produksi gula hati dan menekan nafsu makan sehingga cocok untuk pasien yang obesitas.
Mekanisme kerja metformin adalah metformin tidak menyebabkan rangsangan sekresi insulin dan umumnya tidak menyebabkan hipoglikemia. Metformin juga menurunkan produksi glukosa di hepar dan meningkatkan sensitifitas jaringan otot dan adipose terhadap insulin. Efek ini terjadi karena adanya aktivasi kinase di sel.
Efek sampingnya adalah pada saluran pencernaan, termasuk rasa tidak nyaman pada perut/ diare pada 30% pasien. Terkadang anoreksia, mual.
Cara mengatasi ESO:
·           Untuk mengurangi mual: obat diberikan setelah makan/ pada saat makan.
·           Efek samping pada saluran pencernaan: metformin hendaknya dimulai pada dosis rendah dengan peningkatan secara bertahap/ digunakan sediaan extended release, untuk meminimalkan ESO.

7.      Jelaskan keterkaitan perubahan gaya hidup dengan harapan terkendalinya gula darah pasien di atas!
Jawab:
Perubahan gaya hidup berkaitan dengan harapan terkendalinya gula darah pasien. Untuk mengendalikan gula darah, pasien DM tipe 2 harus diet karena sebagian besar pasien DM tipe 2 memerlukan batasan kalori untuk menurunkan berat badan dan menurunkan resistensi insulin. Selain diet, aktivitas fisik atau olahraga juga diperlukan untuk memperbaiki resistensi insulin dan kontrol gula darah karena dengan aktivitas fisik, masuk ke glukosa ke dalam jaringan akan meningkat meskipun tanpa insulin. Juga menurunkan faktor resiko kardiovaskular serta berkontribusi terhadap penurunan dan mempertahankan berat badan.

8.      Untuk seorang dengan faktor resiko seperti di atas, kapankah sebaiknya dilakukan skrining untuk DM?
Jawab:

Menurut American Diabetes Association (ADA), skrining DM tipe 2 dilakukan setiap 3 tahun pada semua orang dewasa dimulai dari usia 45 tahun. Pengujian ini lebih difokuskan dengan mempertimbangkan faktor usia dan faktor resiko lainnya. Pengujian yang dianjurkan adalah uji glukosa puasa.
FARMASI MASYARAKAT
TUGAS III INDIVIDU

NAMA               : LIYA SUCI LESTARI
NIM                  : 051211131162
TANGGAL        : 5 NOPEMBER 2015
KELAS             : A
            Promosi kesehatan merupakan suatu kegiatan menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok, atau individu sehingga memperoleh pengetahuan kesehatan yang lebih baik dan diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku.
            Tercapainya tujuan promosi kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya, yaitu pemilihan metode dan media promosi kesehatan. Dalam hal ini, saya memilih metode ceramah untuk kelompok besar dengan alasan metode ini baik untuk sasaran pendidikan tinggi dan rendah. Para peserta penyuluhan mempunyai tingkatan pendidikan yang berbeda-beda sehingga dengan menggunakan mentode ceramah diharapkan tercapai hasil yang optimal berupa perubahan perilaku karena meningkatnya tingkat pengetahuan.
            Selain metode, media juga berpengaruh terhadap keberhasilan dari tujuan promosi kesehatan. Media atau alat peraga dalam promosi kesehatan dapat diartikan sebagai alat bantu promosi kesehatan yang digunakan untuk memperlancar komunikasi dan menyebarluaskan informasi. Menurut (Soekidjo, 2005), media promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik melalui media cetak, elektronika, dan media luar ruang, sehingga pengetahuan sasaran dapat meningkat dan akhirnya dapat mengubah perilaku ke arah positif terhadap kesehatan.

            Untuk media, saya memilih media audio visual. Selain karena sesuai dengan sasaran yang berupa kelompok, media audio visual ini lebih dikenal masyarakat dengan berbagai latar belakang dan tingkat pendidikan. Kelebihan media audio visual yang lain yaitu melibatkan seluruh pancaindra, lebih mudah dipahami, lebih menarik karena ada suara dan gambar, adanya tatap muka, penyajian dapat dikendalikan, jangkauan relatif lebih luas, serta dapat diulang-ulang jika digunakan sebagai alat diskusi. Namun, media audio visual memiliki kekurangan, yaitu biaya lebih tinggi, sedikit rumit, memerlukan energi listrik, diperlukan alat canggih dalam proses produksi, perlu persiapan matang, perlu keterampilan penyimpanan, dan pengoperasian.


Nama               : Liya Suci Lestari
NIM                : 05121113112
Kelas               : A
Tanggal           : 21 Oktober 2015
Dosen              : Dra. Liza Pristianty, M.Si. MM.Apt
1.      Termasuk OWA nomor berapakah pil KB?
Jawab:
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 347/MenKes/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek, pil KB (oral kontrasepsi) termasuk OWA no.1.

2.      Sebutkan macam-macam oral kontrasepsi! Oral kontrasepsi yang mana yang aman untuk ibu menyusui?
Jawab:
Oral kontrasepsi ini terbagi menjadi dua, yaitu Tunggal (seperti Linestrenol) dan Kombinasi (seperti Etinodiol Diasetat, Mestranol Norgestrel, Etinil Estradiol Linestrenoil, Etinil Estradiol Etinodiol Diasetat, Etinil Estradiol Norethindrone, Mestranol Desogestrel dan Etinil Etradiol). Penggunaan untuk obat tunggal, pada siklus pertama harus dengan resep dokter, sedangkan pada obat kombinasi, akseptor dianjurkan kontrol ke dokter tiap 6 bulan.
Oral kontrasepsi yang aman untuk ibu menyusui adalah mini pil.
3.      Sebutkan contoh mini pil!
Jawab:
a.       Micrinor, NOR-QD, noriday, norod mengandung 0,35 mg noretindron.
b.      Microval, noregeston, microlut mengandung 0,03 mg levonogestrol.
c.       Ourette, noegest mengandung 0,5 mg norgeestrel.
d.      Exluton mengandung 0,5 mg linestrenol.
e.       Femulen mengandung 0,5 mg etinodial diassetat.

4.      Bagaimana mekanisme antibiotik menurunkan efektivitas dari pil KB?
Jawab:
Ada beberapa keadaan di mana secara teoritik antimikroba (antibiotika/ antijamur) dapat mempengaruhi penyerapan, metabolisme, dan pengeluaran etilen estradiol, menurunkan potensinya serta dapat menyebabkan pendarahan, bahkan kegagalan KB, yaitu kehamilan. Rifampisin, suatu antibiotika yang digunakan untuk mengobati TBC, adalah yang pertama kali dilaporkan menyebabkan berkurangnya efek pil KB pada sekitar tahun 1971 di Jerman. Di antara 88 wanita yang menggunakan pil KB dan Rifampisin, 62 orang di antaranya dilaporkan mengalami gangguan menstruasi dan 5 orang gagal berKB atau hamil. Rifampisin adalah induser yang poten terhadap enzim sitokrom P450 sehingga meningkatkan proses metabolisme etinil estradiol menjadi senyawa tak aktif, yang pada gilirannya menyebabkan berkurangnya konsentrasi pil KB tersebut dalam tubuh dan menyebabkan efeknya jadi berkurang. Griseofulvin, suau obat jamur, juga dilaporkan memiliki efek yang serupa, yaitu mengurangi efek kontrasepsi oral. Obat jamur lain yang dilaporkan dapat menurunkan potensi pil KB adalah itraconazole, namun mekanismenya belum diketahui secara pasti. Yang menarik, obat kelompok triazol yang lain yaitu ketaconazole dan fluconazole, dilaporkan menghambat enzim sitokrom P450, yang berarti mengurangi metabolisme pil KB menjadi bentuk tak aktifnya, yang pada gilirannya meningkatkan efek pil KB-nya. Namun karena belum ada data epidemiologi yang akurat, masih sulit untuk menyimpulkan secara pasti interaksi obat jamur dengan kontrasepsi oral.
Selain dengan cara meningkatkan kerja enzim pemetabolisme tersebut, antibiotika juga dapat mengurangi efek pil KB dengan cara membunuh bakteri usus yang dibutuhkan untuk memproses etinil estradiol menjadi senyawa bebas yang bisa dire-sirkulasi dan dire-absorpsi. Dengan terbunuhnya bakteri usus yang berguna, yaitu Clostridia, maka proses reabsorpsi obat akan terhambat, kadar zat aktif dalam tubuh menjadi berkurang, yang berarti mengurangi efek pil KB. Antibiotika seperti penisilin dan tetrasiklin dilaporkan dapat menyebabkan kegagalan pil KB. Di Selandia Baru pada tahun 1987, 23% dari163 kasus kehamilan yang dilaporkan adalah akibat kegagalan pil KB karena digunakan bersama antibiotika. Namun sekali lagi, masih terdapat kesulitan metodologi dalam studi ilmiah tentang interaksi obat ini. Karena penggunaan parameter yang berbeda, sebagian  studi menyatakan tidak ada interaksi yang signifikan antara obat antimiroba dengan pil KB, sementara studi yang lain menyatakan sebaliknya.
Sebuah penelitian yang dilakukan pada kelinci, seperti yang dilaporkan oleh sebuah jurnal ilmiah Contraception tahun 1997, menunjukkan bahwa antibiotika amoksisilin tidak memeiliki efek signifikan terhadap kadar etinil estradiol dalam darah, berarti tidak mempengaruhi efek pil KB. Hasil penelitian yang serupa juga ditemui pada antibiotika tetrasiklin. Sebuah studi (tahun 1991) pada 7 orang wanita yang menggunakan kontrasepsi oral dan tetrasiklin secara bersama menunjukkan bahwa tetrasiklin tidak megurangi secara signifikan kadar etinil estradiol dalam darah.

5.      Bagaimana siklus menstruasi menurut Handbook of Nonprescription Drug?
Jawab:
Siklus mentruasi rata-rata berakhir selama 28 hari, namun hanya terjadi pada 15% wanita. Lama siklus terjadi antara 21 sampai 40 hari, mens berlangsung selama 4 hari (±2 hari). Sebagian besar darah hilang selama 1 hari sampai 2 hari.
Satu hari pertama pada menstruasi disebut hari pertama siklus. Yang dimulai dengan fase folikular di ovarium dan fase menstruasi/proliferatif di uterus. Fase folikular bisa terjadi dalam beberapa hari sampai beberapa minggu tetapi berakhir rata-rata pada 14 hari. selama fase folikular, FSH menstimulasi pematangan sekelompok folikel ovarium. Pematangan ini mensekresi erstrogen estradiol yang mengakibatkan pertumbuhan endometrium pada uteri.
                        Sekitar hari ke-8, folikel tunggal menjadi dominan dan pengembangannya yang umum menghasilkan ovulasi hanya satu sel telur. Fase ovulasi pada siklus ini terjadi selama 3 hari. Selama fase ini terjadi gelombang LH (periode 48 jam ketika kelenjar pituitari mensekresi LH kadar tinggi) kemudian mengkatalisir langkah terakhir dalam maturasi ovum dan menstimulasi produksi prostaglandin dan enzim proteolitik yang penting pada ovulasi (rilis ovum yang telah matang).  Estradiol juga menurun pada saat gelombang LH terjadi, kadang-kadang terjadi dengan adanya pendarahan endometrium pada pertengahan siklus. Ovulasi terjadi selama 12 jam setelah gelombang LH. Ovulasi merilis 5-10 ml cairan folikular yang mengadung masaa oosit dan prostaglandin, hal inilah yang menyababkan nyeri abdomen pada sebagian wanita.
                        Fase luteal adalah waktu antara ovulasi dan pematangan pada aliran darah menstruasi. Setelah terjadi ruptur folikel kemudian akan kembali sebagai corpus luteum. Lama fase ini lebih konstan, sekitar 14 hari (±2 hari) dan hal ini konsisten dengan periode fungsional (sekiatr 10-12 hari) pada courps luteum. Corpus luteum mensekresi progesteron, estradiol, dan androgen. Peningkatan kadar estrogen dan progesteon mengubah lapisan endometrial, pematangan kelenjar, proliferasi dan menjadi fase sekretori ketika uterus mempersiapkan untuk implantasi sel telur yang telah difertilisasi. Kadar Progesteron dan estrogen mencapai puncak pada pertengahan fase luteal, dimana fase ini kadar LH dan FSH menurun. (sumber : Handbook of Nonprescription Drug)

            


Sejarah
                Defisiensi vitamin C yang dinamakan skorbut atau scurvy telah dikenal sejak tahun 1720. Diketahui pula bahwa penyakit tersebut dapat dicegah dengan pemberian sayur-sayuran atau buah-buahan segar terutama golongan jeruk yang ternyata mengandung vitamin C. Asam askorbat mula-mula dikenal sebagai asam heksuronat dengan rumus C6H8O6. Karena berkhasiat sebagai antiskorbut maka dinamakan asam askorbat atau vitamin C.
Farmakodinamik
                Pada jaringan, fungsi utama vitamin C ialah dalam sintesis kolagen, proteoglikan zat organik matriks antar sel lain misalnya pada tulang, gigi, endotel kapiler.
                Pemberian vit.c pada keadaan normal tidak menunjukkan efek farmakodinamik yang jelas. tetapi pada keadaan defisiensi, pemberian vit.C akan menghilangkan gejala penyakit dengan cepat.
Defisiensi vit.C
F  Malaise (meriang)
F  Mudah tersinggung
F  Gangguan emosi
F  Atralgia : nyeri pada satu atau lebih sendi
F  Pendarahan hidung
F  Petekie : bintik merah kecil di kulit yang merupakan akibat keluarnya sejumlah kecil darah
F  Gusi melunak dan mudah berdarah
F  Etc
Farmakokinetik
F  Vit.c mudah diabsorpsi melalui saluran cerna.
F  Distribusibya luas ke seluruh tubuh dengan kadar tertinggi dalam kelenjar dan terendah dalam otot dan jaringan lemak.
F  Ekskresi melalui urin.
Kebutuhan Sehari
F AKG vit C untuk bayi : 35 mg
F AKG vit C untuk orang dewasa: 60 mg
F Perokok diperkirakan membutuhkan tambahan vitamin C 50% untuk mempertahankan kadar normal dalam serum.
F Wanita pada masa hamil dan laktasi diperlukan tambahan vitamin C 10-25 mg/ hari.

Indikasi
F  Untuk pencegahan dan pengobatan skorbut.
F  Penggunaan vit.C untuk penyakit yang tidak berhubungan dengan defisiensi vit.C, efektivitasnya tidak jelas atau tidak terbukti.
F  Vit. C tidak bermanfaat untuk kanker lanjut
F  Vit C mega dosis tidak terbukti efektif untuk aterosklerosis, penyembuhan luka, dan skizofrenia.
Efek Samping
F  Diare (pada penggunaan dosis lebih dari 1 g/ hari).
F  Pada dosis besar dapat terbentuk batu ginjal karena sebagian vit.c dimetabolisme dan diekskresi sebagai oksalat.
F  Penggunaan kronik (secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama) dengan dosis besar menyebabkan ketergantungan.
F  Etc


Note:
Farmakodinamik: cabang ilmi farmakologi yang mempelajari tempat (target aksi obat) dan mekanisme kerja serta efek fisiologik dan biokimia organisme hidup. Ringkasnya: farmakodinamik adalah pengaruh obat terhadap makhluk hidup

Farmakokinetik: cabang ilmu farmakologi yang mempelajari absorpsi, distribusi, metabolime obat atau biotransformasi maupun ekskresi suatu obat. Ringkasnya, farmakokinetik adalah pengaruh organisme terhadap obat.

sumber: Buku Farmakologi dan Toksikologi UI (2012)



BAB: SOLUTIO
1.      Permasalahan utama dalam formulasi sediaan larutan:
a.      Kelarutan bahan aktif -> bahan aktif biasanya asam lemah atau basa lemah -> kurang larut dalam air -> keberadaannya dalam bentuk molekuler/ terionkan -> dipengaruhi pH media.
b.      Stabilitas bahan aktif -> adanya air -> dapat terjadi berbagai reaksi dan mudah ditumbuhi mikroba.
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas sediaan larutan:
a.      pH -> stabilitas bahan aktif (kelarutan, reaksi hidrolisa atau lainnya).
b.      Temperatur dan cahaya -> ada reaksi-reaksi -> dapat terjadi perubahan warna, bau, rasa, kekeruhan, kekentalan -> kalo sampe melibatkan bahan aktif bisa berakibat terhadap efektivitasnya dan mungkin menjadi toksik.
c.       Kontaminasi mikroba -> karena ada air.
3.      Proses pelarutan ada 3 tahap
a.      Pelepasan molekul dari kristal solut
b.      Pembentukan celah pada solven untuk menampung molekul solut
c.       Penempatan molekul solut ke celah solven
Jika energi yang dibutuhkan untuk  reaksi 1 dan 2 lebih besar dari reaksi 3  -> endoterm -> butuh energi dari luar untuk proses kelarutan.
Jika energi yang dibutuhkan untuk  reaksi 1 dan 2 lebih kecil dari reaksi 3  -> eksoterm -> menghasilkan energi. Ex.pelarutan NaOH mengeluarkan panas
Oleh karena itu untuk mempercepat proses kelarutan butuh pemanasan pada proses endotermik.
Selisih energi reaksi 1 dan 2 dengan reaksi 3 = ENERGI PELARUTAN, makin besar energi pelarutan = makin susah larut.
4.      Faktor-faktor yang berpengaruh pada proses kelarutan:
a.      Interaksi antara solut-solven
·        Polaritas solven -> like dissolve like
·        Kemampuan solut membentuk ikatan hidrogen.
·        Gambaran struktur molekul.
·        Dipengaruhi energi bebas (entalpi) hasil tiga proses dalam sistem.
b.      Pengaruh suhu -> terkait dengan keterlibatan energi suatu reaksi -> entalpi kelarutan (reaksi endotermik dan eksotermik).
c.       Pengaruh pH -> mempengaruhi:
·        Jumlah terion dan tak terion senyawa elektrolit lemah (asam lemah atau basa lemah)
·        Kelarutan asam lemah atau basa lemah.
5.      Pengaruh pH terhadap sediaan:
a.      Drug solubility -> garam yang dilarutkan dalam air.
b.      Drug stability -> adanya proses hidrolisa yang dikatalis oleh asam atau basa.
c.       Drug activity -> aktivitas obat dalam bentuk molekul dipenggaruhi pH.
d.      Drug absorption -> kecepatan absorpsi : derajat ionisasi dan kelarutan dalam lemak.
6.      Persamaan Henderson – Hasselbach
pH = pKa + log ([garam]/ [asam])
kelarutan suatu asam akan meningkat jika pH naik dan kelarutan suatu basa akan turun jika pH naik.
7.      Kelarutan zat dalam air, faktor-faktornya:
a.      Entropi pencampuran: berpengaruh pada pencampuran semua komponen.
b.      Perbedaan gaya kohesi (solut/ solut dan solven/ solven) dengan gaya adhesi (solut/ solven).
c.       Gaya kohesi pada solut : berhubungan dengan energi dalam kristal solut. Terukur sebagai kelarutan ideal solut, tergantung pada suhu lebur dan sifat termodinamika peleburan solut.
8.      Kelarutan dapat dinaikkan:
a.      Penggunaan kosolven: diduga dapat mengurangi tegangan antar muka.
b.      Penghitungan KD: nilai KD yang dibutuhkan untuk kelarutan suatu zat (solut) harus dapat dipenuhi oleh pelarut yang digunakan (harganya sama atau mendekati).
c.       Solubilisasi: melalui pembentukan agregat koloid (misel) zat aktif permukaan (surfaktan).
d.      Pembentukan senyawa kompleks -> kompleksasi: bergabungnya antar molekul sanyawa-senyawa organik sampai tingkat tertentu membentuk kompleks yang larut.
e.      Penambahan senyawa hidrotropi -> senyawa hidrotropi: punya gugus molekul polar hidrofil -> alkohol valensi 1 dan banyak, ester dan eter. Juga dapat membentuk ikatan hidrogen.
f.        Dibuat dalam bentuk prodrug -> modifikasi kimia obat.
g.      Modifikasi kristal: bahan yang amorf lebih mudah larut daripada bentuk kristalnya.
h.      Penerapan prinsip like dissolve like: senyawa polar lebih mudah larut dalam pelarut polar, senyawa non polar lebih mudah larut dalam pelarut non polar, senyawa organik lebih mudah larut dalam pelarut organik, dan senyawa non organik lebih mudah larut dalam pelarut non organik.
i.        Diberikan dalam bentuk garam: asam lemah atau basa lemah diuat dalam bentuk garamnya sehingga mudah larut air.
j.        Pengaturan pH – pKa: senyawa obat biasanya asam lemah atau basa lemah sehingga kelarutannya dipengaruhi oleh pH lingkungan.
9.      Dapar digunakan dalam sediaan bila:
a.      Kelarutan bahan aktif dipengaruhi oleh pH.
b.      Bahan aktif stabil pada pH tertentu (rentang pH stabilitas sempit).
c.       Air sebagai pembawa atau media.
10.  Golongan pengawet yang sering digunakan dalam sediaan farmasi:
a.      Golongan asam
b.      Golongan netral
c.       Golongan merkuri
d.      Golongan senyawa amonium kuartener
11. Bahan pertimbangan untuk skala produksi:
a.      Batch size: jumlah bahan, kapasitas alat, waktu (berhubungan dengan efisiensi produksi), pengemas.
b.      Peralatan: jenis alat yang dibutuhkan, spesifikasi alat, kapasitas obat.
12. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat trial batch atau scale up:
a.      Kapasitas produksi.
b.      Efektivitas dan efisiensi proses produksi.
c.       Reproducibility (setiap batch yang dibuat harus memenuhi spesifikasi yang sudah ditetapkan).

BAB: SUSPENSI
1.      Karakteristik fisik suspensi yang baik:
a.      Tetap homogen dalam waktu tertentu.
b.      Endapan yang dibentuk mudah diredispersi.
c.       Viskositas cukup (terlalu tinggi susah dituang, terlalu rendah cepat mengendap -> dosis homogen).
d.      Partikel harus kecil dan uniform, bebas dari gritty texture (berpasir).
2.      Faktor yang diperhatikan saat formulasi sediaan suspensi:
a.      Homogenitas dosis
b.      Proses pengendapan
c.       Tidak terjadi pemadatan endapan
d.      Proses agregasi partikel suspensi
e.      Kemudahan pendispersian
f.        Menutupi bau dan rasa yang tidak enak
3.      Flocculant -> fungsi: menurunkan electrostatic repulsive force atau menambah interparticle attraction.
Flocculating agent:
a.      Elektrolit: valensi ion meningkat -> efisiensi agregasi (ion trivalen> ion divalen> ion mononvalen).
b.      Surfaktan: teradsorpsi pada EDL -> netralisasi atau pembalikan muatan -> penurunan zeta potensial.
c.       Polimer: dipengaruhi suhu, solvent, dan permukaan adsorben.
4.      Reologi
a.      Pseudoplastik: shearing stress naik -> hambatan mengalir menurun -> sediaan lebih encer (koloid, larutan polimer).
b.      Plastis: shearing stress turun -> tidak mengalir sampai shearing stress sama atau lebih besar  dari yield value.
c.       Thixotropic: rate of shear tergantung shearing stress yang diberikan.
d.      Dilatant: hambatan mengalir naik degan menaikkan shearing stress.
5.      Kerugian surfaktan: terbentuk foam, deflocculated system.
6.      Hydrophilic colloids: membungkus partikel padat padat hidrofobik dengan cara multimoleculer layer. Kerugian: deflocculated system terutama pada konsentrasi rendah.
7.      Hidrokoloid meningkatkan viskositas air dengan cara menikat atau dengan menjebak molekul air  di antara rantai intertwined macromolecular sehingga menghambat pergerakan air.
8.      Humectants: mencegah kristalisasi bahan terlarut dalam suspensi sehingga mencegah cap locking.
Co-solvent: meningkatkan kelarutan molekul elektrolit lemah dan non polar tapi bahan aktif tidak boleh larut dalam kosolven.
9.      Antioksidan
a.      Untuk mencegah proses oksidasi pada bahan aktif atau tambahan yang mengakibatkan penurunan potensi atau efek terapi, perubahan warna, bau, rasa, viskositas sediaan, dll.
b.      Beberapa bahan aktif dapat mengalami autooksidasi (reaksi radikal bebas yang dipicu oleh radiasi UV dan dengan adanya sedikit O2). Dapat dikatalisa oleh ion-ion logam.
10.  Fragrans
a.      Untuk menutupi bau yang tidak enak
b.      Untuk estetika
Umumnya bentuk minyak tidak larut air, dilarutkan dengan kosolven atau solubilizer lain.
11. Metode pendispersian hidrokoloid atau clay
a.      High Shear Mixing
·        Diperoleh dispersi yang baik.
·        Serbuk hidrokoloid ditaburkan perlahan pada permukaan/ dinding vortex -> tiap granul terbasahi. Penambahan serbuk harus sudah seluruhnya sebelum kekentalan merusak vortex dan mulai memasukkan udara ke sistem.
b.      Use of an Eductor
·        Didapatkan dispersi yang terbaik.
·        Pakai funnel and mixing eductor
·        Air secukupnya dimasukkan ke dalam tangki yang dilengkapi high shear mixer. Mixer dihidupkan -> hidrokoloid dituangkan ke funnel yang melekat pada lubang di atas tangki sementara air bergerak. Pada proses ini tiap-tiap partikel dibungkus oleh air sebelum mencapai permukaan air di dalam tangki -> mencegah hidrokoloid mengapung.
c.       Dry Mix Dispersion: bahan yang larut air dicampurkan terlebih dahulu dengan hidrokoloid  kering untuk membantu dispersi -> tambahkan perlahan-lahan ke dalam air dengan high shear mixing -> dispersi hidrokoloid tercapai dalam waktu singkat.

BAB: PENGAWET
1.      Mekanisme Kerja Pengawet
a.      Modifikasi permeabilitas membran sel dan kebocoran isi sel (lisis sebagian).
b.      Lisis dan kebocoran sitoplasma.
c.       Koagulasi irreversible isi sitoplasma (mis.pengendapan protein).
d.      Hidrolisis.
e.      Hambatan metabolisme seluler, mis.menganggu sistem enzim atau hambatan sintesis dinding sel.
f.        Oksidasi kandungan sel.
2.      Pemilihan pengawet
a.      Cukup larut dalam air ntuk mendapatkan konsentrasi yang memadai dalam fasa air dari sistem 2 fasa atau lebih.
b.      Proporsi pengawet yang tidak terdisosiasi pada pH sediaan membuatnya mampu menembus mikroorganisme dan merusak integritasnya.
3.      Pengujian pengawet
a.      Penentuan KHM (Kadar Hambat Minimum): konsentrasi terendah antimikroba kimiawi yang diketahui menghambat pertumbuhan suatu organisme uji.
b.      Pengujian efektifitas pengawet: dengan menginokulasi bermacam-macam organisme uji pada produksi dengan konsentrasi tertentu pada beberapa tabung. Kemudian diambil sampel dari tiap tabung pada waktu tertentu dan ditentukan proporsi inokulum yang hidup.
4.      Cara kerja antimikroba
a.      Mempengaruhi metabolisme: azida dan sianida ikat besi dari sitokrom dan cegah fosforilasi oksidatif.
b.      Rusak membran: ammonium kuartener rusak struktur membran  dan lemak.
c.       Mutagen kimiawi: modifikasi struktur DNA secara kimia (zat pengalkil)
d.      Analog metabolit: sulfonamida antagonis asam p-amino benzoat.
e.      Mempengaruhi sintesis dinding sel: penisilin
f.        Mempengaruhi fungsi asam nukleat: kloramfenikol dan tetrasiklin.
g.      Mempengaruhi sintesis protein: streptomisin, kanamisin
5.      Skrining kontaminan
·        Tujuan: mengetahui tipedan jumla mikroba yang mengontaminasi.
·        Dilakukan dengan: sampling udara, sampling permukaan dan peralatan, pengukuran tingkat kontaminasi pada bahan baku dan sediaan akhir -> mikrokalorimetri, elektroforesis, penentuan impedansi.