Catatan Kecil Apoteker

Sebuah blog yang berisi tentang ilmu farmasi

Latest Posts

TUTORIAL FARMAKOTERAPI DIABETES MELLITUS (3)

By 02:11



Tuan RM usia 59 tahun, 160 cm, dengan riwayat DM sejak 12 tahun yang lalu, datang ke dokter dengan keluhan badan lemah, panas 2 hari. Keluhan lain sering muncul kesemutan dan terasa nyeri yang menusuk terutama pada malam hari.
Data klinik                  : TD 130/ 80, nadi 80/ menit, suhu 39ºC.
Data lab                       : GDA 750; Leukosit 22.000; Hb 11,5; LED 85
                                      BGA : pH 7,35; HCO3; pCO2 40
                                      Na 137 mmol/L; 3,0 mmol/L; Cl 99 mmol/L; kreatinin serum 3 mg/ dl; albuminuria positif
Diagnosa                       : DM – sepsis – neuropati
Terapi                            : infus 0,5 NS
                                        Actrapid RCI 6 x 4 unit IV dilanjutkan actrapid 3 x 12 unit SC
                                        Ceftazidim 3 x 1 g
                                        Metronidazol drip 500 mg 3 dd 1
                                        ASA tab 1 x 100 mg
                                        Dipiradamol tab 3 x 75 mg
                                        Captopril 25 mg 3 dd 1
                                        Asam mefenamat 3 dd 500 mg
Pertanyaan:
1.      Perhatikan data keluhan pasien komplikasi. DM apa yang terjadi pada pasien ini? Jelaskan patogenesisnya!
Jawab:
a.         Komplikasi DM: infeksi/ sepsis
Data keluhan pasien: badan lemah, panas 2 hari
Patogenesis: hiperglikemia menurunkan fungsi sel PMN (neutrofil) serta produksi sitokin sehingga terjadi disfungsi adhesi, kemotaksis, fagositosis oleh makrofag mengakibatkan menurunnya fungsi “microbial killing” sistem imun. Ketika ada bakteri menyerang maka mudah terjadi infeksi/ sepsis.
b.         Komplikasi DM: neuropati diabetik
Data keluhan pasien: kesemutan dan rasa nyeri yang menusuk, terutama malam hari.
Patogenenis: menurut teori Polyol Pathway, ambilan glukosa di saraf perifer tidak hanya bergantung pada insulin. Oleh karena itu, kadar gula darah yang tinggi pada pasien diabetes menyebabkan konsentrasi glukosa yang tinggi di saraf. Hal itu kemudian menyebabkan konversi glukosa menjadi sorbitol melalui jalur polyol melalui reaksi beruntun dikatalisasi oleh aldose reductase. Kadar fruktosa saraf juga meningkat. Fruktosa dan sorbitol saraf yang berlebihan menurunkan ekspresi dari kotransporter sodium/ myoinositol sehingga menurunkan kadar myoinositol. Hal ini menyebabkan penurunan kadar phosphoinositide, bersama-sama dengan aktivasi pompa Na dan penurunan aktivitas Na/ K ATPase. Aktivasi aldose reductase mendeplesi kofaktornya, NADPH, yang menghasilkan penurunan kadar nitric oxide dan glutathione, yang berperan dalam melawan perusakan oksidatif. Kurangnya nitric oxide juga menghambat relaksasi vaskuler yang dapat menyebabkan iskemia kronik.
2.      Perhatikan data lab! Komplikasi DM apa saja yang dialami pasien?
Jawab:
a.       Data lab: leukosit 22.000 (normal = 4.000 – 10.000); suhu tubuh 39º C (normal = 37ºC); dan LED 85 mm/ jam (normal = 0 – 15 mm/ jam).
Komplikasi DM: infeksi/ sepsis
b.      Data lab: kreatinin serum 3 mg/ dl (normal = 0,6 – 1,3 mg/ dl); albuminuria positif (normal = negatif), Hb 11, 5 g/dl.
Komplikasi DM: nefropati diabetik

3.      Jelaskan patogenesis komplikasi no.2!
Jawab:
Infeksi/ sepsis
Hiperglikemia menurunkan fungsi sel PMN serta produksi sitokin. Akibatnya, terjadi disfungsi adhesi, kemotaksis, dan fagositosis oleh makrofag. Leukosit diproduksi dalam jumlah besar akibat adanya gangguan imunoregulasi sehingga jumlah leukosit terus meningkat namun fungsi “microbial killing” dari leukosit menurun. Apabila bakteri menyerang maka mudah mudah terjadi infeksi/ sepsis. Bakteri yang telah mati dalam tubuh akan membebaskan pirogen. Zat-zat pirogen inilah yang enyebabkan suhu tubuh pasien meningkat.
Nefropati diabetik
Hiperglikemia menyebabkan terjadinya ikatan irreversibel antara glukosa  dan protein yang membentuk Advanced Glycation End Products (AGE’s). AGE’s tersebut berikatan dengan matriks ekstra sel pada Glomerular Basement Membrane, semakin banyak AGE’s yang berikatan di glomerulus maka akan terjadi penebalan membran glomerulus yang berlanjut pada kondisi glomerulosklerosis. Jika sudah terjadi glomerulosklerosis maka dapat terjadi hiperfiltrasi. Manifestasi klinisnya adalah peningkatan kreatinin serum serta albuminuria (albumin disekresi dalam urine). Oleh karena itu, jumlah Hb menurun.

4.      Jelaskan tujuan pemberian 0,5 NS!
Jawab:
Pemberian Normal Saline hipotonis bertujuan untuk rehidrasi pasien serta memperbaiki keseimbangan osmolaritas darah (Pharmacotherapy Dipiro p. 1233).

5.      Jelaskan tujuan dan implementasi regimen RCI pada pasien di atas!
Jawab:
Tujuan pemberian Actrapid RCI (Regulasi Cepat Insulin) pada pasien tersebut adalah untuk menurunkan gula darah pasien dengan segera karena kadar gula darah pasien (750 mg/ dl) tergolong tinggi (Pharmacotherapy Dipiro p. 1216 – 1217).
Terapi untuk RCI adalah RCI (IV) 4 unit/ jam selama 6 jam sebagai dosis awal, diikuti Actrapid SC 12 unit/ 8 jam (3 kali sehari) sebagai dosis maintenance (Petunjuk Praktis Terapi Insulin Pada Pasien Diabetes Mellitus).

6.      Sudah tepatkah pemilihan antibiotika yang diberikan? Jelaskan!
Jawab:
Antibiotik yang diberikan pada terapi ini adalah ceftazidim dan metronidazol. Pemilihan kedua obat ini untuk pasien tersebut sudah tepat karena:
·         Ceftazidim merupakan antibiotik golongan cephalosporin generasi ketiga yang memiliki spektrum yang lebih luas dibandingkan dengan cephalosporin golongan pertama dan kedua. Antibiotik ini mempunyai spektrum bakteri gram negatif yang lebih luas sehingga diharapkan mampu mengobati infeksi/ sepsis yang terjadi pada pasien (Basic and Clinical Pharmacology, Katzung 12th ed. 799).
·         Metronidazole merupakan antiprotozoa golongan nitromidazole yang juga memiliki aktivitas melawan bakteri anaerob termasuk bacteroides dan Clostridium sp. Obat ini dikontraindikasikan untuk terapi bakteri anaerob maupun infeksi intra abdominal campuran (Basic and Clinical Pharmacology, Katzung 12th ed p.891-892).
Kombinasi kedua obat ini diharapkan dapat mengatasi infeksi sepsis yang terjadi pada pasien, selain itu juga dapat untuk mencegah (atau mengobati) diabetic foot ulcer yang mungkin terjadi pada pasien, karena diabetic foot ulcer disebabkan oleh infeksi polimikroba sehingga perlu pencegahan dan penanganan dengan terapi antibiotik berspektrum luas serta antibakteri untuk kuman anaerob.

7.      Jelaskan tujuan, mekanisme kerja aspirin dan dipiridamol serta ESO potensial!
Jawab:
Aspirin
·         Tujuan: aspirin dalam terapi ini berfungsi sebagai anti platelet karena pasien DM akan mengalami hiperkoagulasi akibat peningkatan Tromboksan A2 (TxA2) yang merupakan agregrator poten platelet. Berdasarkan hasil pemeriksaan lab, diketahui bahwa Laju Endap Darah (LED) pasien sebesar 85 mm/jam yang menunjukkan tingginya agregrasi platelet. Oleh karena itu, dokter meresepkan aspirin dosis kecil (100 mg) sebagai anti platelet.
·         Mekanisme kerja: aspirin atau Acetyl Salicylic Acid (ASA) bekerja dengan cara menghambat enzim Cyclooxygenase (COX) sehingga tidak terbentuk Tromboksan A2 yang merupakan agregrator poten platelet sehingga tidak terbentuk platelet.
·         ESO potensial: efek samping yang biasa timbul pada dosis anti trombotik adalah gastric dan duodenal ulcer, karena bersifat asam. Obat ini dapat mengiritasi lambung sehingga lebih aman jika digunakan sesudah makan (Basic and Clinical Pharmacology, Katzung 12th ed p. 640)
Dipiridamol
·         Tujuan: dipiridamol dalam terapi ini juga berfungsi sebagai anti trombotik. Jika digunakan sebagai single therapy, obat ini memiliki efek yang kecil atau bahkan tidak berefek. Obat ini biasanya dikombinasikan dengan aspirin sebagai upaya pencegahan cerebrovascular ischemia. Pada pasien DM tipe 2 dengan kadar gula darah yang tinggi (750 mg/ dl) maka kombinasi dipiridamol dan aspirin digunakan untuk mengurangi risiko timbulnya atherosklerosis sebagai langkah proteksi sekunder terhadap penyakit kardiovaskular, juga mencegah timbulnya stroke iskemik.
·         Mekanisme kerja: dipiridamol adalah vasodilator yang menghambat fungsi platelet melalui penghambatan pada uptake adenosine dan aktivitas cGMP fosfodiesterase. Akibatnya, terjadi pengikatan konsentrasi adenosine bekerja di reseptor A2 untuk meningkatkan cAMP platelet dan menghambat agregrasi platelet.
·         ESO potensial: efek samping yang paling sering terjadi adalah sakit kepala dan palpitasi (Pharmacology Examination, Katzung & Trevor, 10th ed p.307).

8.      Bila asam mefenamat tidak mencukupi sebagai analgesik untuk pasien di atas, apa rekomendasi anda sebagai apoteker?
Jawab:
Apabila asam mefenamat tidak mencukupi sebagai analgesik, maka pasien dapat disarankan untuk mengganti asam mefenamat dengan beberapa obat analgesik lain yang efektif untuk neuropati diabetes, antara lain:
·         Golongan Antidepresant (Tricyclic – Antidepresant/ TCA)
Amitriptyline (25 – 150 mg sebelum tidur)
Obat ini telah terbukti efektif dalam mengobati nyeri neuropati diabetes, memiliki waktu paruh yang panjang dan juga tidak terlalu mahal. Obat ini sesuai untuk pasien yang memiliki keluhan gangguan tidur akibat nyeri pada malam hari. Obat golongan TCA merupakan first line therapy untuk nyeri peripheral neuropati diabetikum. Namun, obat ini harus digunakan dengan perhatian karena adanya efek samping berupa cardiac aritmia, mulut kering, penglihatan berkurang, konstipasi, retensi urine, serta pusing. Oleh karena itu, pasien dengan gagal jantung, aritmia, infark miokard, glaukoma, BPH, serta yang memiliki gangguan liver dikontraindikasikan terhadap obat ini. Pemeriksaan elektrogram perlu dilakukan terutama untuk pasien lansia.
·         Golongan Antikonvulsan
Gabapentin (300 mg sebelum tidur)
Gabapentin merupakan obat pilihan untuk terapi neuropati diabetes apabila pasien kontraindikasi dengan obat golongan TCA atau respon TCA kurang adekuat. Gabapentin secara struktural analog dengan Gamma Aminobutyric Acid (GABA). Obat ini berikatan dengan reseptor alfa 2 delta sub unit pada voltage gated Ca2+ channels. Pada beberapa penelitian disebutkan bahwa gabapentin menurunkan nyeri neuropati diabetik, serta memperbaiki kualitas tidur pasien. Efek samping yang mungkin ditimbulkan antara lain pusing dan mengantuk. Obat ini disekresi melalui renal sehingga tidak terlalu banyak terjadi interaksi obat. Namun, yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan obat ini adalah dari segi harga yang lebih mahal dibandingkan dengan golongan TCA.
Pregabalin (80 – 200 mg, 3 x 1 hari)
Pregabalin secara struktural mirip dengan gabapentin, dan juga memiliki farmakokinetik, metabolit dan efek samping yang juga mirip dengan gabapentin. Pregabalin memiliki onset yang lebih cepat dalam meredakan nyeri dibandingkan dengan gabapentin. Obat ini telah disetujui oleh FDA sebagai terpai untuk nyeri neuropati diabetik serta untuk terapi fibromyalgia. Selain itu, kelebihan dari pregabalin adalah memiliki konsentrasi plasma yang linear walaupun terjadi peningkatan dosis. Obat ini merupakan pilihan yang sesuai untuk pasien lansia. Efek samping yang mungkin ditimbulkan adalah pusing, edema, mengantuk, dan pertambahan berat badan (jarang terjadi) (Pregabalin in the Treatment of Neuropathic Pain Associated with Diabetic Peripheral Neuropathy, 2008).
·         Golongan SNRI (Serotonin – Norepinephrine Reuptake Inhibitor)
Duloxetine (60 – 120 mg/ hari)
Apabila obat golongan TCA ataupun antikonvulsan sudah tidak mencukupi, maka Duloxetine dapat direkomendasikan. Obat ini bekerja dengan cara berikatan dengan transporter serotonin dan norepinephrine sehingga kedua neurotransmitter tersebut dapat meningkat kerjanya. Obat ini efektif dalam mengatasi depresi, kecemasan, nyeri fibromyalgia, dan juga nyeri muskuloskeletal kronis. Efek samping yang biasa ditimbulkan adalah mual, mengantuk, mulut kering, kurangnya nafsu makan, dan juga konstipasi.
·         Golongan Opioid
Oxycodone controlled release (10 – 40 mg 2x sehari)
Obat golongan opioid ini juga efektif dalam mengatasi nyeri neuropati diabetik namun obat ini jarang digunakan karena terdapat efek samping toleransi hiperalgesia dan juga ketergantungan.


You Might Also Like

0 comments