Catatan Kecil Apoteker

Sebuah blog yang berisi tentang ilmu farmasi

Latest Posts

KIMIA FORENSIK: PCR DAN ELEKTROFORESIS

By 17:59

             Jika terdapat suatu kasus di mana ada seorang mayat dan di sekitar mayat ada rambut dan bercak darah yang diduga milik pelaku, maka tim forensik akan memeriksa DNA dari sampel biologis tersebut untuk mengetahui siapa pelaku pembunuhan tersebut. Karena sampel yang ada sangat sedikit dan DNA yang akan diidentifikasi juga sedikit, maka diperlukan suatu teknik untuk memperbanyak DNA tersebut. Teknik tersebut adalah PCR kemudian dilanjutkan dengan elektroforesis.
Polymerase Chain Reaction (PCR)
            PCR adalah suatu teknik amplifikasi (perbanyakan) sekuens DNA target spesifik secara in vitro. PCR dapat digunakan untuk mengamplifikasi segmen DNA dalam jumlah jutaan kali hanya dalam beberapa jam.
            Yang dibutuhkan untuk PCR adalah sebagai berikut:
1.      DNA template

DNA template merupakan total DNA genomik yang diisolasi dari sampel biologis (darah, sperma, kulit, rambut, dll) yang berisi wilayah target yang akan diperbanyak. DNA template digunakan sebagai cetakan untuk pembentukan molekul DNA baru yang sama.
1.      DNA primer
Merupakan potongan pendek DNA single strand yang mengapit target. DNA primer inilah yang menentukan keberhasilan PCR.
1.      Taq DNA polymerase
Merupakan enzim yang digunakan sebagai katalis untuk reaksi polimerase DNA. Dipilih dari bakteri termofilik atau hipertermofilik karena enzimnya bersifat termostabil sampai temperatur 95 derajat celcius.
Enzim Pfu polimerase (diisolasi dari bakteri Pyrococcus furiosus) mempunyai aktivitas spesifik 10 kali lebih kuat dibandingkan aktivitas enzim Taq polimerase (Thermus aquaticus).
1.      Nukleotida (GATC)
Merupakan bahan-bahan yang digunakan untuk menyusun DNA.
G = Guanin; A = Adenin; T = Timin; C = Sitosin
Thermal Cycler

Adalah alat untuk proses PCR. Alat ini mampu mengubah suhu dengan cepat dan mengulangi siklus selama beberapa kali dengan tiga suhu berbeda selama reaksi PCR.
Proses PCR terdiri dari tiga siklus, yaitu:

1.      Denaturasi
Pada proses ini suhu yang digunakan adalah berkisar 93 – 95 derajat celcius selama 1 menit. Suhu yang digunakan tergantung pada panjang DNA templat yang digunakan dan juga pada panjang fragmen DNA target. Suhu denaturasi yang terlalu tinggi akan menurunkan aktivitas polimerase DNA yang akan berdampak pada efisiensi PCR. Selain itu, juga dapat merusak DNA templat. Sedangkan suhu yang terlalu rendah dapat menyebabkan proses denaturasi DNA templat tidak sempurna. Sehingga umumnya suhu denaturasi yang digunakan adalah 94 derajat celcius. Dalam proses denaturasi, ikatan hidrogen DNA double strand akan rusak sehingga terpisah menjadi single strand.

2.      Annealing
Suhu kemudian diturunkan menjadi 55 derajat celcius selama 45 detik. Pada proses ini, DNA primer single strand akan menempel pada daerah tertentu dari target DNA.

3.      Ekstensi
Pada proses ekstensi, suhu dinaikkan menjadi 72 derajat celcius selama 2 menit. Langkah ini disebut langkah perpanjangan karena pada suhu ini polimerase Taq DNA membentang dari primer dengan menambahkan nukleotida yang melengkapi templat untuk strand DNA yang baru tumbuh.

Ketiga siklus ini akan berulang selama 30 kali.

Elektroforesis

            Hasil dari PCR kemudian dipisahkan dengan elektroforesis. Elektroforesis merupakan teknik untuk memisahkan protein atau DNA dengan jalan memberi perbedaan medan listrik elektrostatik pada media agar/ poliakrilamid yang direndam dalam TBE (Tris –  Boric Acid – EDTA). Teknik ini dapat digunakan untuk memanfaaatkan muatan listrik yang ada pada molekul misalnya DNA yang bersifat negatif. Molekul yang dapat dipisahkan antara lain DNA, RNA, atau protein. Jika suatu molekul yang bermuatan negatif dilewatkan melalui suatu medium, misalnya gel agarosa, kemudian dialiri arus listrik dari satu kutub ke kutub yang berlawanan muatannya, maka molekul tersebut akan bergerak dari kutub negatif ke kutub positif.


Fragmen DNA pendek atau protein dengan berat molekul rendah akan bergerak paling jauh. Sampel DNA diberi pemberat (misalnya gliserin) dan pewarna untuk mengetahui apakah bagian terpendek sudah sampai di ujung. Pewarna yang digunakan biasanya metylen blue.


Fragmen-fragmen DNA yang telah dipotong dengan enzim restriksi dapat ditentukan ukurannya dengan cara membuat gel agarosa, yaitu bahan semi-padat berupa polisakarida yang diekstraksi dari rumput laut. Gel agarosa dibuat dengan melarutkannya dalam suatu buffer. Agar dapat larut dengan baik, pelarutannya dibantu dengan pemanasan hingga gel agarosa dalam keadaan cair sehingga mudah dituang ke atas lempeng, dan sebelum mendingin dibuat sumuran dengan menggunaka perspex menyerupai sisir yang ditancapkan pada salah satu ujung gel yang masih cair. Sehingga ketika gel memadat, terbentuklah sumuran-sumuran kecil. Ke dalam sumuran inilah nantinya molekul DNA dimasukkan.


Agarosa merupakan polisakarida yang terdiri dari unit agarobiosa. Konsentrasi agarosa yang biasa digunakan antara 1 – 3%. Ukuran pori gel bergantung pada konsentrasi agarose, semakin tinggi konsentrasi agarosa maka semakin kecil ukuran pori dan sebaliknya. Agarosa juga mengandung sulfat, semakin rendah konsentrasi sulfat maka semakin murni agarosa. Keuntungan menggunakan agarosa adalah agarosa leleh pada suhu yang rendah (62 – 65 derajat celcius).
Tahapan elektroforesis:
1.      Pemasangan sisir pada cetakan gel agarosa.
2.      Menuangkan larutan agarosa yang cair setelah pemanasan.
3.      Setelah permukaan gel padat, sisir diangkat.
4.      Setelah ditambahkan dengan larutan TBE, masukkan DNA sampel dalam setiap sumuran.
5.      Menghidupkan mesin elektroforesis dengan waktu, set voltase dan arah migrasi yang telah ditetapkan.
6.      Hasil dari elektroforesis kemudian diamati dengan UV illuminator.


Sumber referensi:
PPT Kuliah Kimia Forensik  Bab PCR dan Elektroforesis beserta catatan kecil saya
Handoyo, Darmo dan Ari Rudiretna. 2000. Prinsip Umum dan Pelaksanaan Polymerase Chain Reaction (PCR). Pusat Studi Bioteknologi. Universitas Surabaya. Unitas, Vol. 9, No. 1, 17-29
Wilson, K. & John M. W. 1994. Principles and Techniques of Practically Biochemistry. UK: Cambridge University Press
Yuwono, T. 2005. Biologi Molekuler. Jakarta: Erlangga

You Might Also Like

0 comments