Catatan Kecil Apoteker

Sebuah blog yang berisi tentang ilmu farmasi

Latest Posts



          Kalau tak kenal maka tak sayang.. cieeeeh.. pastinya kata-kata itu tak asing di telinga kita. Iya bukan? Iya kan iya kan iya kan? Iya aja deeeh.. (sedikit maksa, xixixi). Well, kenalan yuk sama biokimia, biar kita sayang sama salah satu cabang ilmu kimia ini.
Biokimia adalah gabungan  dari dua kata yaitu “Bio” dan “Kimia”. Jadi, di sini kita akan belajar tentang mekanisme reaksi-reaksi kimia  yang  ada pada makhluk hidup. Biokimia adalah disiplin ilmu yang mempelajari senyawa kimia penyusun makhluk hidup (biomolekul), reaksi  kimia yang melibatkan biomolekul (metabolisme), dan biomolekul. Nah, sedangkan biomolekul sendiri itu adalah golongan molekul yang secara alamiah menyusun/terdapat di dalam makhluk hidup atau yang berasal dari makhluk hidup.
Kita juga perlu tahu gimana cirri-cirinya biomolekul, biar kita bisa bedain ini biomolekul bukan, itu biomolekul bukan.. okey, cekidot!! ^_^
Cirri-ciri biomolekul yaitu:
1.      Tersusun dari unsur C, H, O, (N), (S), dan (P). tetapi untuk unsure N, S, dan P jarang ditemui di biomolekul.
2.      Sebagian tersusun dalam tata hirarki.
3.      Tiga golongan biomolekul yang dijumpai pada setiap organism adalah protein, karbohidrat, lipid, dan asam nukleat.
4.      Protein, karbohidrat, en lipid telah terungkap wujudnya sebelum abad ke 19 (jadi, sebelum sebelumnya abad ke 19 penampakannya masih samar-samar, hehehe)
5.      Asam nukleat adalah golongan biomolekul yang paling akhir diisolasi.
            Setelah tahu sedikit-sedikit tentang biokimia dan biomolekul, pastinya kalian merasa penasaran kan contohnya biomolekul itu apa aja sih? Iya nggak? :D
Oke, berikut contoh-contoh biomolekul:
1.      Karbohidrat
2.      Lipid
3.      Protein/ asam amino
4.      Asam nukleat (DNA, RNA)
5.      Urea, asam urat, asam laktat
6.      Dan kawan-kawannya (banyak banget deh pokoknya, kamu bisa cari sendiri contoh lainnya, hehehe (^.^)V )
Next, kita belajar lagi tentang reaksi-reaksi kimia dalam makhluk hidup. Okey, sekedar kita tahu (eh, nggak cuma sekedar sih, tapi fardhu (wajib) hukumnya bagi kita-kita yang tiap hari bergelut sama sesuatu yang ada hubungannya sama biokimia, :D ) reaksi kimia dalam makhluk hidup itu mempunyai cirri. Apa aja cirinya? Simak yuk uraian berikut ini! ^_^
1.      (umumnya) terjadi secara berantai dalam tahap-tahap reaksi yang dikenal sebagai jalur metabolism.
2.      Sebagian besar tahap reaksi tersebut dikatalisis oleh enzim.
3.      Terjadi secara terkendali.
Dan berikut adalah contoh jalur-jalur metabolism:
1.      Glikolisis
2.      Glukoneogenesis
3.      Glikogenesis
4.      Glikogenolisis
5.      Daur Krebs/TCA/daur asam sitrat
Ternyata, kita semua perlu tahu teman bahwa ilmu biokim ini ternyata juga diperlukan di beberapa bidang, seperti kedokteran, kedokteran gigi, kedokteran hewan, farmasi, pertanian, peternakan, dan masih banyak lagi. Nah, berhubung aku anak farmassi so aku akan cerita sekilas tentang hubungan antara biokimia dan farmasi.  Jadi gini, ilmu biokim itu dapat menjelaskan hal-hal yang ada dalam bidang farmakologi dan toksikologi karena mereka berdua ini berhubungan dengan pengaruh bahan kimia dari luar terhadap metabolism. Obat-obatan kan biasanya mempengaruhi jalur metabolic tertentu, misalnya saja antibiotik penisilin dapat membunuh bakteri dengan menghambat pembentukan polisakarida pada dinding sel bakteri. Dengan demikian bakteri akan mati karena tak dapat membentuk dinding sel.
        The last, mungkin cukup ini ilmu yang dapat kutularkan, hehe.. maklum, baru semester 3 di farmasi dan baru kenal juga sama biokimia. Semoga bermanfaat. Aamiin ^_^



          Injeksi adalah sediaan steril yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui selaput lender. Injeksi dapat berupa larutan, emulsi, suspense, atau serbuk steril yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan.
          Macam-macam injeksi
1.       Injeksi intrakutan atau intradermal (i.c)
Biasanya berupa larutan atau suspense dalam air,volume yang disuntikkan sedikit (0,1-0,2 ml). digunakan untuk tujuan diagnose. Biasanya yang digunakan adalah larutan alergenik.
2.      Injeksi subkutan atau hipderma (s.c)
Umumnya larutan isotonus, jumlah yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml. disuntikkan ke dalam jaringan di bawah kulit ke dalam “alveola”, kulit mula-mula diusap dengan cairan desinfektan (etanol 70%). Dapat ditambahkan dengan vasokonstriktor seperti Epinefrina 0,1% untuk melokalisir efek obat. Larutan harus sedapat mugkin isotonus, sedang pH-nya sebaiknya netral, dimaksudkan untuk mengurangi iritasi jaringan dan mencegah kemugkinan terjadi nekrosis (mengendornya kulit). Jika tidak disuntikkan secara infuse, volume injeksi 3 – 4 liter sehari, masih dapat disuntikkan secara subkutan dengan penambahan hialuronidase ke dalam injeksi atau jika sebelumnya disuntik hialuronidase.
3.      Injeksi intramuskulus (i.m)
Merupakan larutan atau suspense dalam air atau minyak atau emulsi. Disuntikkan masuk otot daging dan volume sedapat mungkin tidak lebih dari 4 ml. penyuntikan volume besar dilakukan dengan perlahan-lahan untuk mencegah rasa sakit, sedapat mungkin tidak lebih dari 4 ml. Ke dalam otot dada dapat disuntikkan sampai 200 ml, sedang otot lain volume yang disuntikkan lebih kecil.
4.     Injeksi intravenous (i.v)
Merupakan larutan, dapat mengandung cairan yang tidak menimbulkan iritasi yang dapat bercampur dengan air, volume 1 ml sampai 10 ml. Larutan ini biasanya isotonus atau hipertonus. Bila larutan hipertonus maka disuntikkan perlahan-lahan. Jika larutan yang diberikan banyak umumnya lebih dari 10 ml disebut infuse, larutan diusahakan supaya isotonus dan diberikan dengan kecepatan 50 tetes tiap menit dan lebih baik pada suhu badan.
Emulsi minyak-air dapat diberikan, asal ukuran butiran minyak cukup kecil (emulsi mikro). Bentuk suspense atau emulsi makro tidak boleh diberikan melalui intravena.
Larutan injeksi intervena, harus jernih betul bebas dari endapan atau partikel padat karena dapat menyumbat kapiler dan menyebabkan kematian. Jika dosis tunggal dan diberikan lebih dari 15 ml, injeksi intravenous tidak boleh mengandung bakterisida dan jika lebih dari 10 ml harus bebas pirogen.
Penggunaan injeksi intravenous diperlukan bila dikehendaki efek sistemik yang cepat, karena larutan injeksi masuk langsung ke dalam sisrkulasi sistemik melalui vena perifer. Larutan infuse biasanya mengandung elektrolit dan substansi nutrisi yang esensial.
5.      Injeksi intraarterium(i.a)
Umumnya berupa larutan , dapat mengandung cairan non-iritan yang dapat bercampur dengan air, volume yang disuntikkan 1 ml sampai 10 ml dan digunakan bila diperlukan efek obat yang segera dalam daerah perifer. Injeksi intraarterium tidak boleh mengandung bakterisida.
6.     Injeksi intrakor atau intrakardial (i.k.d)
Berupa larutan, hanya digunakan untuk keadaan gawat, dan disuntikkan ke dalam otot jantung atau ventrikulus. Injeksi intraarterium tidak boleh mengandung bakterisida.
7.     Injeksi intratekal (i.t), intraspinal, intradunal
Berupa larutan harus isotonus, sebab sirkulasi cairan cerebropintal adalah lambat, meskipun larutan anestetika sumsum tulang belakang sering hipertonus. Larutan harus benar-benar steril, bersih sebab jaringan syaraf daerah anatomi di sini sangat peka. Injeksi disuntikkan ke dalam saluran sumsum tulang belakang (antara 3 – 4 atau 5 – 6 lumba vertebra) yang ada cairan cerebrospinal.
8.     Injeksi intratikulus
Berupa larutan atau suspense dalam air yang disuntikkan ke dalam cairan sendi dalam rongga sendi.
9.     Injeksi subkonjungtiva
Berupa larutan atau suspense dalam air yang untuk injeksi selaput lendir mata bawah, umumnya tidak lebih dari 1 ml.
10.  Injeksi yang digunakan lain:
a.     Intraperitoneal (i.p), disuntikkan langsung ke dalam rongga perut. Penyerapan cepat, bahaya infeksi besar dan jarang dipakai.
b.     Peridural (p.d), ekstra dural, disuntikkan ke dalam ruang epiura, terletak di atas durameter, lapisan penutup terluar dari otak dan sumsum tulang belakang.
c.      Intrasisternal (i.s) disuntikkan ke dalam saluran sumsum tulang belakang pada otak.
PUSTAKA: Anief, Moh.2005. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press



                Serbuk tabur harus bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat luar. Talk, Kaolin, dan bahan mineral lainnya yang digunakan untuk serbuk tabur harus memenuhi syarat bebas dari bakteri Clostridium tetani dan Clostridium Welchii, dan Bacillus anthracis. Cara sterilisasinya  ialah dengan cara pemanasan kering pada suhu 150 derajat celcius selama 1 jam. Serbuk tabur tidak boleh digunakan untuk luka terbuka.
                Dalam pembuatan selalu dilakukan obat-obat yang berkhasiat dicampur dengan Talk atau Bolus Alba, tetapi tidak dengan Oxydi Zincici dan zat lain yang sama.
                Serbuk yang mengandung lemak harus diayak dengan pengayak nomor 44. Cara membuat serbuk tabur yang mengandung:
a.       Adeps Lanae, Vaselinum, Plumbi Oxydi Emplastrum ialah dengan melarutkan zat tersebut dalam Aether atau Aceton, lalu tambahkan sebagian talk diaduk sampai Aether atau Aceton menguap, setelah itu ditambah bahan lainnya.
b.      Paraffinum liquidum dan Oleum Ricini dicampur dulu dengan sama banyaknya talk lalu ditambahkan sedikit demi sedikit dan aduk, sambil yang melekat pada dinding  mortar dilepas dengan spatel atau kertas film dan diaduk.
c.       Ichtyol diencerkan dulu dengan Aether cum Spiritu lalu dikeringkan dengan talk, yaitu sambil diaduk dibiarkan Aether cum Spiritunya menguap lalu ditambahkan sisa talk dan serbuk lainnya, sambil melekat pada dinding mortar dilepas dengan spatel atau dengan kertas film.
d.      Minyak-minyak eteris dan Formaldehyde Solutio dicampur terakhir dengan cara memasukkan zat tersebut dalam mortar lalu ditambahkan campuran serbuk yang telah diayak sedikit demi sedikit .
Aturan pembuatan serbuk tabur:
1.      Serbuk tabur tanpa mengandung zat berlemak diayak no.100.
2.      Serbuk tabur yang mengandung zat berlemak diayak no.44.
3.      Seluruh serbuk harus terayak semua, yang tertinggal di ayakan dihaluskan lagi sampai seluruhnya terayak.
Bagian zat berlemak dibasahi lagi dengan eter lalu diaduk dengan serbuk yang telah diayak. Juga untuk serbuk yang mengandung Ichtyol dilakukan seperti tersebut di atas.
Setelah semua serbuk terayak, dicampur dan diaduk lagi.  Jangan digunakan serbuk sebelum tercampur homogen seluruhnya.
Untuk sebuk gigi kadang-kadang digunakan Carminum, agar zat warna tersebut merata, maka sambil digerus ditetesi Aether cum Spiritu.
Contoh-contoh resep:
R/        Adeps Lanae                                2,5
                Aqua                                                  2,5
                Vaselin                                               2
                Bolus alba                                       7
                Zinci Oxydi                                   10
                Talc                                                     10
                Ol.Lavendel                   gtt.        V
m.d.s.pulvis adspersorius Zinci Adipatus

Prinsip:  Adeps + Vaselin diencerkan dengan Aceton, keringkan dengan talk. Zinc Oksida diayak dulu.

R/        Sulfaguanidin                0,3
                m.f.pulv. No.X
                s.t.d.d.p.l
Pro: Tanti

Penyelesaian: mestinya d.t.d dan pengambilan bahan dikalikan 10









Penyakit TBC
Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, atau kaya) dan dimana saja. Setiap tahunnya, Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru TBC dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TBC. Bahkan, Indonesia adalah negara ketiga terbesar dengan masalah TBC di dunia.
Survei prevalensi TBC yang dilakukan di enam propinsi pada tahun 1983-1993 menunjukkan bahwa prevalensi TBC di Indonesia berkisar antara 0,2 – 0,65%. Sedangkan menurut laporan Penanggulangan TBC Global yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2004, angka insidensi TBC pada tahun 2002 mencapai 555.000 kasus (256 kasus/100.000 penduduk), dan 46% diantaranya diperkirakan merupakan kasus baru.
Penyebab Penyakit TBC
Penyakit TBC adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP).
http://medicastore.com/tbc/image/bakteri_tbc.jpg
Bakteri Mikobakterium tuberkulosa
Cara Penularan Penyakit TBC
Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.
http://medicastore.com/tbc/image/sebar_tbc.jpg
Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.
Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC.
Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.
Gejala Penyakit TBC
Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.
Gejala sistemik/umum
  • Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
  • Penurunan nafsu makan dan berat badan.
  • Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
  • Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
Gejala khusus
  • Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
  • Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
  • Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
  • Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.
Penegakan Diagnosis
Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah:
  • Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.
  • Pemeriksaan fisik.
  • Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak).
  • Pemeriksaan patologi anatomi (PA).
  • Rontgen dada (thorax photo).
  • Uji tuberkulin.