Catatan Kecil Apoteker

Sebuah blog yang berisi tentang ilmu farmasi

Latest Posts


LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI II
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2014

Nama                                      : Liya Suci Lestari
NIM                                         : 051211131162
Hari, Tanggal Praktikum       : Kamis, 2 Oktober 2014
Materi Praktikum                 : Penetapan Kadar Kofein dalam Energy Drink
Dosen Pembimbing              : Prof. Dr. Mochammad Yuwono, MS
I.          TUJUAN PRAKTIKUM
Menentukan kadar kofein dalam Energy Drink dengan metode KLT (Kromatografi Lapis Tipis) - Densitometer
II.          PRINSIP DASAR / TEORI
Kromatografi merupakan metode pemisahan campuran komponen kimia yang dibawa fase mobil melalui fase diam, berdasar pada perbedaan migrasi komponen-komponen tersebut dari fase diam oleh pengaruh fase gerak. Perbedaan migrasi ini disebabkan oleh perbedaan distribusi komponen-komponen dalam kedua fase tersebut.

III.          BAHAN DAN ALAT
Bahan:       1. Sampel Energy Drink
                   2. Penyari Metanol
                   3. Standar Kofein
                   4. Standar Taurin
                   5. Etanol
                   6. n-butanol
                   7. Asam asetat glasial 96%
Alat:           1. Lempeng KLT
                   2. Bejana Pengembang
                   3. Densitometer CAMAG/ SHIMADZU 930 CS
                   4. Mikro kapiler 20 µl
                   5. Alat Gelas

IV.          PROSEDUR KERJA
1.      Pembuatan Larutan Baku
a.         Penimbangan baku induk kofein dilakukan 2 macam untuk 2 kadar yang berbeda, misalnya 5000 ppm dan 6000 ppm dalam etanol.
b.        Dibuat pengenceran dari kedua baku induk tersebut sehingga diperoleh larutan baku kerja kofein dengan kadar 200 ppm, 300 ppm, 400 ppm, dan 600 ppm..
c.         Larutan baku kerja Taurin dibuat dengan kadar 5000 ppm dalam air.
2.      Preparasi Sampel
a.         Memipet 5.0 ml sampel Energi Drink yang telah dilarutkan dalam air (1 sachet/ 100.0 aquadest).
b.        Memindahkan ke labu ukur 10.0 ml + metanol sampai tanda.
c.         Kocok homogen (preparasi sampel 2 kali).
3.      Analisis
a.         Memberi garis batas bawah pada KLT 1.5 cm dan batas atas 0.5 cm serta memberi jarak antar titik penotolan (sesuaikan dengan lebar plate dan jumlah titik penotolan).
b.        Menotolkan larutan standar kofein, taurin, dan sampel masing – masing 2 µl mulai dari konsentrasi terkecil. Bilas kapiler dengan metanol sebelum digunakan dan bilas kembali 3 kali dengan larutan yang akan ditotolkan.
c.         Lempeng KLT dieluasi dalam bejana pengembang (disiapkan dulu) dengan fase gerak (asam asetat glasial 96 % : etanol : n-butanol = 5 : 2 : 3) (v/v).
d.        Mengeringkan KLT di lemari asam.
e.         Mengamati area noda kofein dengan sinar UV pada Densitometer CAMAG/ SHIMADZU 930 CS pada λ maksimal.
f.          Noda taurin diamati dengan penampak noda ninhidrin.
g.         Dipanaskan di oven 1500C selama 2 menit hingga nampak noda berwarna merah anggur.
h.        Menghitung Rf, Rs, dan kadar kofein (mg/100 ml).
i.           Membuat persamaan regresi linier (kadar vs area), menghitung r, Vxo, dan kadar kofein dalam sampel (dinyatakan dalam mg/ 100 ml).



V.          DATA HASIL PENGAMATAN
A.     Penimbangan Bahan
1.      Penimbangan untuk kofein 5000 ppm
Berat botol timbang + zat           = 13.8969 gram
Berat botol timbang + sisa zat   = 13.8415 gram
Berat zat                                        =   0.0554 gram
2.      Penimbangan untuk kofein 6000 ppm
Berat botol timbang + zat           = 12.7173 gram
Berat botol timbang + sisa zat   = 12.6577 gram
Berat zat                                        =   0.0596 gram
3.      Penimbangan untuk taurin 5000 ppm
Berat botol timbang + zat           = 12.9856 gram
Berat botol timbang + sisa zat   = 12.9286 gram
Berat zat                                        =   0.0570 gram
B.      Penghitungan Kadar Baku Induk
1.      Baku kofein 5000 ppm    = (55.4 mg/ 10.0 ml)
= (5540 mg/ 1000 ml)
= 5540 ppm
2.      Baku kofein 6000 ppm    = (59.6 mg/ 10.0 ml)
= (5960 mg/ 1000 ml)
= 5960 ppm
3.      Baku taurin 5000 ppm    = (57.0 mg/ 10.0 ml)
= (5700 mg/ 1000 ml)
= 5700 ppm
C.      Penghitungan Kadar Larutan Baku Kofein
1.      Larutan baku kerja 1 = (1.0 ml/ 25 ml) x 5540 ppm    = 221.6 ppm
2.      Larutan baku kerja 1 = (0.5 ml/ 10 ml) x 5960 ppm    = 298.0 ppm
3.      Larutan baku kerja 1 = (2.0 ml/ 25 ml) x 5540 ppm    = 143.2 ppm
4.      Larutan baku kerja 1 = (1.0 ml/ 10 ml) x 5960 ppm    = 596.0 ppm
D.     Tabel Hasil Pengamatan
No.
Nama Larutan
Jarak Noda (cm)
Jarak Tempuh Eluen (cm)
Rf = (jarak noda/ jarak tempuh eluen)
Area
1.
Larutan baku kerja 1
4.5
8
0.5625
6685.06
2.
Larutan baku kerja 1
4.5
8
0.5625
6768.60
3.
Larutan baku kerja 1
4.5
8
0.5625
12.837.15
4.
Larutan baku kerja 1
4.5
8
0.5625
15725.36
5.
Taurin
4.5
8
0.5625

6.
Sampel 1
4.5
8
0.5625
6961.52
7.
Sampel 2
4.5
8
0.5625
6929.76

VI.          ANALISIS DATA
X
y
221.6
6685.06
298.0
6768.60
443.2
12837.15
596.0
15725.36
Dengan me-reject data ketiga, diperoleh persamaan regresi:
y     = bx + a
y     = 24.4054x + 1492.4226
r      = 0.9950
karena r < 0.999, maka dilakukan penghitungan Vx0 untuk evaluasi terhadap linearitas.
1.      Penghitungan Vx0
Kadar (x)
Area (y)
y1
(y-y1)2
221.6
6685.06
6900.6592
46483.0150
443.2
6685.06
12308.8959
279052.3942
596.0
6685.06
16038.0410
97679.4078
Jumlah
423304.802

Sy         =
Sy         =
Sy         =
            = 650.6188
Sx0       = (Sy/b) = (650.6188/ 24.4054) = 26.6588
Vx0       = (Sx0/ xrata-rata) x 100 % = (26.6588/ 420.2677) x 100 % = 6.34 %
Karena Vx0 bernilai > 2 %, maka persamaan regresi linier tidak digunakan untuk menghitung kadar sampel. Sehingga digunakan perbandingan kadar vs area terdekat.
2.      Perbandingan Kadar vs Luas Area
 =
Sampel 1 à  =  Ã  x1 = 230.7456 ppm
Sampel 2 à  =  Ã  x1 = 229.6929 ppm
Kadar kofein rata – rata sampel = 230.2192 ppm
Kadar kofein dalam 0.5 ml sampel :  V1 x N1            =  V2 x N2
                                                         1000 x 230.2192 = 0.5 x N2
                                                                   N2            = 460438.4 ppm
Kadar kofein dalam 100 ml sampel             = 230.2192 ppm
                                                                         = (230.2192 mg/ 1000 ml) x 100 ml
                                                                         = 23.02 mg/ 100 ml
Karena zat yang ditotolkan diambil dari 5 ml larutan sampel lalu ditambah metanol hingga 10 ml, maka kadar kofein dalam sampel adalah:
(23.02 mg/ 100 ml) x 2 = 46.04 mg/ 100 ml

3.      Menghitung Rs (Resolusi) Sampel
Rs =(2 ΔTr / W1 + W2)
Rs = (2(3.8 – 3.3/ 0.3 + 0.3))
Rs = 1.67
(Data Tr (Time Retention) dan  W (Width) diperoleh dari kromatogram)

4.      Menghitung Rf
Rf semua larutan baku kofein, taurin, dan larutan sampel memiliki nilai yang sama, yaitu    Rf = (larutan tempuh analit/ larutan tempuh eluen)
                         Rf = (4.5/ 8)
                         Rf = 0.5625

VII.          PEMBAHASAN
Penetapan kadar kofein dalam energy drink salah satunya adalah dengan menggunakan metode KLT – Densitometer. Dengan larutan baku kofein berkadar 221.6 ppm; 298.0 ppm; 443.2 ppm; dan 596.0 ppm diperoleh luas area secara berurutan yaitu 6685.05; 6768.60; 12837.15; dan 15725.36. kadar larutan baku sebagai x dan luas area sebagai y diperoleh persamaan regresi linier y = 26.6358x + 124.0768 dengan r = 0.9751. karena r yang diperoleh jauh dari 0.999 yang artinya kurang linier, maka diperlukan pe-reject-an data, yaitu data ketiga dan diperoleh persamaan regresi linier y = 24.4054x + 1492.4226 dengan r = 0.9950. jika r < 0.999 perlu dilakukan evaluasi terhadap linearitas yaitu dengan menghitung Vx0. Penghitungan Vx0 diperoleh 6.34 % yang berarti lebih dari 2% sehingga persamaan garis linier tidak digunakan untuk menghitung kadar sampel. Sebagai gantinya maka digunakan perbandingan dengan kadar dan luas area dari sampel baku yang terdekat dengan sampel.
Menurut data dari kromatogram, luas area untuk sampel 1 yaitu 6961.52 dan untuk sampel 2 yaitu 6929.76. dengan penghitungan perbandingan kadar dan luas area larutan baku kofein yang terdekat dengan luas area sampel diperoleh kadar untuk sampel 1 yaitu 230.7456 ppm dan untuk sampel 2 yaitu 229.6929 ppm dari kadar sampel 1 dan sampel 2 diperoleh kadar rata – rata sampel yaitu 230.2192 ppm. Sedangkan penghitungan kadar kofein dalam 0.5 ml sampel diperoleh 460438.4 ppm dan dalam 100 ml yaitu 23.02 ml/ 100 ml. Karena zat yang ditotolkan diambil dari 5 ml larutan sampel kemudian ditambah metanol hingga 10 ml, maka kadar kofein dalam 100 ml dikali 2 sehingga diperoleh 46.04 mg/ 100 ml.
Untuk mengetahui perbedaan antara waktu retensi dua puncak yang saling berdekatan maka dilakukan penghitungan resolusi dari data kromatogram. Penghitungan resolusi sampel diperoleh 1.67. karena 1.67 lebih besar dari 1.5 artinya terjadi pemisahan puncak yang baik (base line resolution).
Pada penghitungan Rf (Retardation Factor) untuk larutan baku kofein, larutan baku taurin, dan larutan sampel memiliki nilai yang sama, yaitu 0.5625. Menurut literatur, harga Rf harus terletak antara 0.2 – 0.8 untuk memaksimalkan pemisahan. Dari harga Rf larutan baku kofein dan taurin yang identik dengan harga Rf pada sampel, maka dapat disimpulkan bahwa sampel mengandung kofein dan taurin.

VIII.          KESIMPULAN
1.      Kadar Kofein dalam sampel adalah 46.04 mg/ 100 ml.
2.      Nilai Rs sampel adalah 1.67.
3.      Nilai Rf larutan baku kofein, larutan baku taurin, dan larutan sampel adalah 0.5625.

IX.          DAFTAR PUSTAKA
1.      Watson, D.G.1999.Pharmaceutical Analysis, Harcourt Publishers Limited, London, New York, Sydney, Toronto, pp 277 – 292.
2.      Indrayanto G, Sia T.K, Wibowo Y.I, 2001. Densitometric Determination of Taurine and I-Lysine Hydrochloride in an energy drink and in Multivitamin Syrup, and Validation of the Method. Journal of Planar Chromatography 14, pp 24 – 27.
3.      Gandjar, Ibnu Ghalib, Abdul Rohman.2010.Kimia Farmasi Analisis.Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Surabaya, 16 Oktober 2014
                                                                                          Praktikan

                                                                                       Ttd

                                                                                            Liya Suci Lestari
                                                                                            051211131162



          Kalau tak kenal maka tak sayang.. cieeeeh.. pastinya kata-kata itu tak asing di telinga kita. Iya bukan? Iya kan iya kan iya kan? Iya aja deeeh.. (sedikit maksa, xixixi). Well, kenalan yuk sama biokimia, biar kita sayang sama salah satu cabang ilmu kimia ini.
Biokimia adalah gabungan  dari dua kata yaitu “Bio” dan “Kimia”. Jadi, di sini kita akan belajar tentang mekanisme reaksi-reaksi kimia  yang  ada pada makhluk hidup. Biokimia adalah disiplin ilmu yang mempelajari senyawa kimia penyusun makhluk hidup (biomolekul), reaksi  kimia yang melibatkan biomolekul (metabolisme), dan biomolekul. Nah, sedangkan biomolekul sendiri itu adalah golongan molekul yang secara alamiah menyusun/terdapat di dalam makhluk hidup atau yang berasal dari makhluk hidup.
Kita juga perlu tahu gimana cirri-cirinya biomolekul, biar kita bisa bedain ini biomolekul bukan, itu biomolekul bukan.. okey, cekidot!! ^_^
Cirri-ciri biomolekul yaitu:
1.      Tersusun dari unsur C, H, O, (N), (S), dan (P). tetapi untuk unsure N, S, dan P jarang ditemui di biomolekul.
2.      Sebagian tersusun dalam tata hirarki.
3.      Tiga golongan biomolekul yang dijumpai pada setiap organism adalah protein, karbohidrat, lipid, dan asam nukleat.
4.      Protein, karbohidrat, en lipid telah terungkap wujudnya sebelum abad ke 19 (jadi, sebelum sebelumnya abad ke 19 penampakannya masih samar-samar, hehehe)
5.      Asam nukleat adalah golongan biomolekul yang paling akhir diisolasi.
            Setelah tahu sedikit-sedikit tentang biokimia dan biomolekul, pastinya kalian merasa penasaran kan contohnya biomolekul itu apa aja sih? Iya nggak? :D
Oke, berikut contoh-contoh biomolekul:
1.      Karbohidrat
2.      Lipid
3.      Protein/ asam amino
4.      Asam nukleat (DNA, RNA)
5.      Urea, asam urat, asam laktat
6.      Dan kawan-kawannya (banyak banget deh pokoknya, kamu bisa cari sendiri contoh lainnya, hehehe (^.^)V )
Next, kita belajar lagi tentang reaksi-reaksi kimia dalam makhluk hidup. Okey, sekedar kita tahu (eh, nggak cuma sekedar sih, tapi fardhu (wajib) hukumnya bagi kita-kita yang tiap hari bergelut sama sesuatu yang ada hubungannya sama biokimia, :D ) reaksi kimia dalam makhluk hidup itu mempunyai cirri. Apa aja cirinya? Simak yuk uraian berikut ini! ^_^
1.      (umumnya) terjadi secara berantai dalam tahap-tahap reaksi yang dikenal sebagai jalur metabolism.
2.      Sebagian besar tahap reaksi tersebut dikatalisis oleh enzim.
3.      Terjadi secara terkendali.
Dan berikut adalah contoh jalur-jalur metabolism:
1.      Glikolisis
2.      Glukoneogenesis
3.      Glikogenesis
4.      Glikogenolisis
5.      Daur Krebs/TCA/daur asam sitrat
Ternyata, kita semua perlu tahu teman bahwa ilmu biokim ini ternyata juga diperlukan di beberapa bidang, seperti kedokteran, kedokteran gigi, kedokteran hewan, farmasi, pertanian, peternakan, dan masih banyak lagi. Nah, berhubung aku anak farmassi so aku akan cerita sekilas tentang hubungan antara biokimia dan farmasi.  Jadi gini, ilmu biokim itu dapat menjelaskan hal-hal yang ada dalam bidang farmakologi dan toksikologi karena mereka berdua ini berhubungan dengan pengaruh bahan kimia dari luar terhadap metabolism. Obat-obatan kan biasanya mempengaruhi jalur metabolic tertentu, misalnya saja antibiotik penisilin dapat membunuh bakteri dengan menghambat pembentukan polisakarida pada dinding sel bakteri. Dengan demikian bakteri akan mati karena tak dapat membentuk dinding sel.
        The last, mungkin cukup ini ilmu yang dapat kutularkan, hehe.. maklum, baru semester 3 di farmasi dan baru kenal juga sama biokimia. Semoga bermanfaat. Aamiin ^_^



          Injeksi adalah sediaan steril yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui selaput lender. Injeksi dapat berupa larutan, emulsi, suspense, atau serbuk steril yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan.
          Macam-macam injeksi
1.       Injeksi intrakutan atau intradermal (i.c)
Biasanya berupa larutan atau suspense dalam air,volume yang disuntikkan sedikit (0,1-0,2 ml). digunakan untuk tujuan diagnose. Biasanya yang digunakan adalah larutan alergenik.
2.      Injeksi subkutan atau hipderma (s.c)
Umumnya larutan isotonus, jumlah yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml. disuntikkan ke dalam jaringan di bawah kulit ke dalam “alveola”, kulit mula-mula diusap dengan cairan desinfektan (etanol 70%). Dapat ditambahkan dengan vasokonstriktor seperti Epinefrina 0,1% untuk melokalisir efek obat. Larutan harus sedapat mugkin isotonus, sedang pH-nya sebaiknya netral, dimaksudkan untuk mengurangi iritasi jaringan dan mencegah kemugkinan terjadi nekrosis (mengendornya kulit). Jika tidak disuntikkan secara infuse, volume injeksi 3 – 4 liter sehari, masih dapat disuntikkan secara subkutan dengan penambahan hialuronidase ke dalam injeksi atau jika sebelumnya disuntik hialuronidase.
3.      Injeksi intramuskulus (i.m)
Merupakan larutan atau suspense dalam air atau minyak atau emulsi. Disuntikkan masuk otot daging dan volume sedapat mungkin tidak lebih dari 4 ml. penyuntikan volume besar dilakukan dengan perlahan-lahan untuk mencegah rasa sakit, sedapat mungkin tidak lebih dari 4 ml. Ke dalam otot dada dapat disuntikkan sampai 200 ml, sedang otot lain volume yang disuntikkan lebih kecil.
4.     Injeksi intravenous (i.v)
Merupakan larutan, dapat mengandung cairan yang tidak menimbulkan iritasi yang dapat bercampur dengan air, volume 1 ml sampai 10 ml. Larutan ini biasanya isotonus atau hipertonus. Bila larutan hipertonus maka disuntikkan perlahan-lahan. Jika larutan yang diberikan banyak umumnya lebih dari 10 ml disebut infuse, larutan diusahakan supaya isotonus dan diberikan dengan kecepatan 50 tetes tiap menit dan lebih baik pada suhu badan.
Emulsi minyak-air dapat diberikan, asal ukuran butiran minyak cukup kecil (emulsi mikro). Bentuk suspense atau emulsi makro tidak boleh diberikan melalui intravena.
Larutan injeksi intervena, harus jernih betul bebas dari endapan atau partikel padat karena dapat menyumbat kapiler dan menyebabkan kematian. Jika dosis tunggal dan diberikan lebih dari 15 ml, injeksi intravenous tidak boleh mengandung bakterisida dan jika lebih dari 10 ml harus bebas pirogen.
Penggunaan injeksi intravenous diperlukan bila dikehendaki efek sistemik yang cepat, karena larutan injeksi masuk langsung ke dalam sisrkulasi sistemik melalui vena perifer. Larutan infuse biasanya mengandung elektrolit dan substansi nutrisi yang esensial.
5.      Injeksi intraarterium(i.a)
Umumnya berupa larutan , dapat mengandung cairan non-iritan yang dapat bercampur dengan air, volume yang disuntikkan 1 ml sampai 10 ml dan digunakan bila diperlukan efek obat yang segera dalam daerah perifer. Injeksi intraarterium tidak boleh mengandung bakterisida.
6.     Injeksi intrakor atau intrakardial (i.k.d)
Berupa larutan, hanya digunakan untuk keadaan gawat, dan disuntikkan ke dalam otot jantung atau ventrikulus. Injeksi intraarterium tidak boleh mengandung bakterisida.
7.     Injeksi intratekal (i.t), intraspinal, intradunal
Berupa larutan harus isotonus, sebab sirkulasi cairan cerebropintal adalah lambat, meskipun larutan anestetika sumsum tulang belakang sering hipertonus. Larutan harus benar-benar steril, bersih sebab jaringan syaraf daerah anatomi di sini sangat peka. Injeksi disuntikkan ke dalam saluran sumsum tulang belakang (antara 3 – 4 atau 5 – 6 lumba vertebra) yang ada cairan cerebrospinal.
8.     Injeksi intratikulus
Berupa larutan atau suspense dalam air yang disuntikkan ke dalam cairan sendi dalam rongga sendi.
9.     Injeksi subkonjungtiva
Berupa larutan atau suspense dalam air yang untuk injeksi selaput lendir mata bawah, umumnya tidak lebih dari 1 ml.
10.  Injeksi yang digunakan lain:
a.     Intraperitoneal (i.p), disuntikkan langsung ke dalam rongga perut. Penyerapan cepat, bahaya infeksi besar dan jarang dipakai.
b.     Peridural (p.d), ekstra dural, disuntikkan ke dalam ruang epiura, terletak di atas durameter, lapisan penutup terluar dari otak dan sumsum tulang belakang.
c.      Intrasisternal (i.s) disuntikkan ke dalam saluran sumsum tulang belakang pada otak.
PUSTAKA: Anief, Moh.2005. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press



                Serbuk tabur harus bebas dari butiran kasar dan dimaksudkan untuk obat luar. Talk, Kaolin, dan bahan mineral lainnya yang digunakan untuk serbuk tabur harus memenuhi syarat bebas dari bakteri Clostridium tetani dan Clostridium Welchii, dan Bacillus anthracis. Cara sterilisasinya  ialah dengan cara pemanasan kering pada suhu 150 derajat celcius selama 1 jam. Serbuk tabur tidak boleh digunakan untuk luka terbuka.
                Dalam pembuatan selalu dilakukan obat-obat yang berkhasiat dicampur dengan Talk atau Bolus Alba, tetapi tidak dengan Oxydi Zincici dan zat lain yang sama.
                Serbuk yang mengandung lemak harus diayak dengan pengayak nomor 44. Cara membuat serbuk tabur yang mengandung:
a.       Adeps Lanae, Vaselinum, Plumbi Oxydi Emplastrum ialah dengan melarutkan zat tersebut dalam Aether atau Aceton, lalu tambahkan sebagian talk diaduk sampai Aether atau Aceton menguap, setelah itu ditambah bahan lainnya.
b.      Paraffinum liquidum dan Oleum Ricini dicampur dulu dengan sama banyaknya talk lalu ditambahkan sedikit demi sedikit dan aduk, sambil yang melekat pada dinding  mortar dilepas dengan spatel atau kertas film dan diaduk.
c.       Ichtyol diencerkan dulu dengan Aether cum Spiritu lalu dikeringkan dengan talk, yaitu sambil diaduk dibiarkan Aether cum Spiritunya menguap lalu ditambahkan sisa talk dan serbuk lainnya, sambil melekat pada dinding mortar dilepas dengan spatel atau dengan kertas film.
d.      Minyak-minyak eteris dan Formaldehyde Solutio dicampur terakhir dengan cara memasukkan zat tersebut dalam mortar lalu ditambahkan campuran serbuk yang telah diayak sedikit demi sedikit .
Aturan pembuatan serbuk tabur:
1.      Serbuk tabur tanpa mengandung zat berlemak diayak no.100.
2.      Serbuk tabur yang mengandung zat berlemak diayak no.44.
3.      Seluruh serbuk harus terayak semua, yang tertinggal di ayakan dihaluskan lagi sampai seluruhnya terayak.
Bagian zat berlemak dibasahi lagi dengan eter lalu diaduk dengan serbuk yang telah diayak. Juga untuk serbuk yang mengandung Ichtyol dilakukan seperti tersebut di atas.
Setelah semua serbuk terayak, dicampur dan diaduk lagi.  Jangan digunakan serbuk sebelum tercampur homogen seluruhnya.
Untuk sebuk gigi kadang-kadang digunakan Carminum, agar zat warna tersebut merata, maka sambil digerus ditetesi Aether cum Spiritu.
Contoh-contoh resep:
R/        Adeps Lanae                                2,5
                Aqua                                                  2,5
                Vaselin                                               2
                Bolus alba                                       7
                Zinci Oxydi                                   10
                Talc                                                     10
                Ol.Lavendel                   gtt.        V
m.d.s.pulvis adspersorius Zinci Adipatus

Prinsip:  Adeps + Vaselin diencerkan dengan Aceton, keringkan dengan talk. Zinc Oksida diayak dulu.

R/        Sulfaguanidin                0,3
                m.f.pulv. No.X
                s.t.d.d.p.l
Pro: Tanti

Penyelesaian: mestinya d.t.d dan pengambilan bahan dikalikan 10